Matahari Musim Dingin di Nagarkot

Matahari musim dingin itu semacam mata air di tengah gurun. Di tengah suhu 12 derajat celcius di bukit Nagarkot, matahari yang muncul di tengah langit cerah ini benar-benar jadi satu-satunya hal yang menghangatkan badan gue. Nggak jarang gue sengaja berjemur di bawah terik matahari, meski gue tahu akibatnya nanti mungkin aja muka gue bakal jadi seitem setrika gosong. Tapi beneran, asik banget duduk dan nikmatin hangatnya sinar matahari yang seakan menembus pakaian empat lapis gue. Sambil memandangi lembah Kathmandu yang terhampar di depan mata. Ternyata ini sebabnya orang-orang banyak menyebut Kathmandu Valley, karena memang ibukota Nepal ini terletak di sebuah lembah dengan barisan bukit Himalaya di sekelilingnya. Kalau gue menengokkan kepala ke arah sebaliknya, ada barisan gunung-gunung tertinggi di planet yang setiap jengkal ujungnya tertutup putih salju. Ini dia pemandangan yang membuat semua orang datang ke Nepal. Ini dia pemandangan yang membuat gue datang ke Nepal. Melihat atap dunia. Melihat gunung Everest, meski hanya titik kecil di batas cakrawala.

Ah.

Atap dunia.

And I stand before it.

What I was trying to prove anyway?

Ah nevermind.

Lembah Kathmandu dari bukit Nagarkot

Desa Nagarkot ini jelas tempat yang sempurna untuk ngeliat sunset dan sunrise dengan latar belakang barisan gunung Himalaya yang bersalju. Setidaknya untuk dua alasan itu desa kecil ini menarik banyak orang dari seluruh dunia.

Untuk sunrise, tempat sempurna untuk menyaksikan tontonan magis itu jelas di View Tower di titik tertinggi desa Nagarkot. Untuk ke sana bisa jalan kaki kurang lebih satu jam, atau ya naik mobil atau motor kalau lo ada tebengan. Buat gue, dewi fortuna masih berjalan beriringan dengan gue.

Jam 5 pagi gue bangun dan setengah jam kemudian gue berangkat dengan headlamp menyala sepanjang jalan. Setelah lima belas menit jalan kaki menembus suhu 3 derajat celcius, gue menyadari langkah kaki gue meninggalkan bangunan-bangunan hotel yang memberikan sedikit penerangan pada jalan gue. Gue mulai masuk ke jalan yang kiri kanan hutan pinus! JENG JENG JENG! Ya ini sih mirip sama jalur Pananjakan di Bromo ya pas gue juga mau liat sunrise. Tapi kan waktu itu gue rame-rame bareng teman-teman bule baru gue. Lha sekarang gue sendirian, di negara orang pula. Apa ya mitos orang Nepal di situasi kaya gini? Kayaknya ga pernah denger. Jangan-jangan gak ada. Kalo ga ada ya bagus. Tapi kok gue denger suara langkah kaki dari belakang gue ya? Gue senterin kok ga keliatan apa-apa? AH SYIT! Suara langkah kaki itu makin dekat, dan gue makin menyipitkan mata gue untuk mencoba mengantisipasi siapa yang datang. SIAPA SIH INI??

Hey, you want to go to the tower?

FIUHHH betapa leganya gue denger suara itu.

Ternyata dia adalah salah seorang staff hotel yang lagi olahraga pagi. Dia nggak ada senter dan sempet balik arah gegara takut jalan sendirian dalam gelap. Sumpah beneran dia ngomong gitu. Begitu dia liat gue pake senter, dia puter arah lagi dan ngejar gue. SUMPAH YE! Tapi ini sih kebetulan yang hoki banget. Gue punya senter tapi jiper jalan sendiri, dia ga punya senter dan jiper jalan dalam gelap. Jadi kami saling melengkapi. HAHAHA.

Gue sampai di view tower tepat ketika langit mulai bercahaya, tapi matahari belum menyembul dari cakrawala. Ternyata ya tower-nya itu kecil banget kaya cuma muat 9 orang di atas, dan harus dipanjat pake tangga besi yang harus hati-hati banget melangkah.

Ketika matahari mulai melongok, momen magis maha langka itu pun dimulai. Barisan Himalaya di sudut kiri satu-persatu mulai berwarna kemerahan diterpa sinar mentari. Kabut tebal yang menutupi lembah tepat di depan sang mentari pun mulai tampak jelas. Sementara di arah sebaliknya, kota Kathmandu mulai menggeliat bangun dari tidurnya dengan asap yang mengepul dari beberapa bangunan. Lampu oranye terang yang berbaris milik bandara internasional Tribhuvan pun sudah padam.

Hari ketiga di tahun 2017 telah dimulai!

Dan gue memulai hari itu dengan menatap titik tertinggi di bumi.

Sunrise over the Himalayas

Desa Nagarkot sih bener-bener lokasi yang sempurna untuk menghindar dari ramainya Kathmandu. Cuma ada beberapa hotel dan guest house di sini. Berhubung gue mau manjain diri setelah 6 hari trekking, jadi gue pilih hotel yang harganya agak lumayan. Nagarkot Bed & Breakfast kayaknya jadi satu-satunya hotel dengan harga yang sama kaya yang lain tapi nyediain breakfast. Mayan dooonk hemat.

Tapi menurut gue lokasi hotel ini sih perfect banget. Kalau ke rooftop, bisa liat lembah Kathmandu tanpa halangan apapun. Tengok kepala sedikit, udah bisa liat barisan Himalaya setelah sunrise atau sebelum sunset (kalau di luar jam itu, ketutup awan dan kabut). Kalau liat sunset pun sempurna banget, bisa lihat sampai matahari benar-benar tenggelam di garis horizon. Sunrise yang ga bisa karena kehalangan bukit pinus. Tapi masih bisa nikmatin barisan Himalaya yang pelan-pelan berubah warna dari biru dingin sampai ke oranye hangat.

Rooftop hotel yang sederhana tapi nyaman

Dari ke Kathmandu ke Nagarkot sih gampang banget, cuma naik dua kali local bus dan ganti bis di kota Bhaktapur. Jadi di Kathmandu ke Bhaktapur Bus Stop di dekat Ratna Park. Ini halte bus khusus arah Bhaktapur (ternyata begini sistem bis di Kathmandu, ada halte bus khusus untuk trayek tertentu). Bus dari Kathmandu ke Bhaktapur cuma 25 rupee (Rp. 2.500 – Jan 2017) dan sekitar sejam perjalanan. Nanti pas udah masuk kota Bhaktapur, bilang aja sama keneknya “Nagarkot Bus Stop“. Tar turun di perempatan di utara kota, dan jalan kaki sekitar 500 meter sampe pertigaan ke halte bus khusus ke Nagarkot. Bus dari Bhaktapur ke Nagarkot cuma 50 rupee (Rp 5.000 – Jan 2017) dan sekitar sejam perjalanan naik bukit dengan jalan yang meliuk-liuk. Turun di destinasi akhir.

  • Kathmandu ke Bhaktapur: 1 jam
  • Bhaktapur ke Nagarkot: 1 jam
  • Bis Kathmandu – Bhaktapur: 25 rupee
  • Bis Bhaktapur – Nagarkot: 50 rupee
  • Hotel per malam: 1300 rupee (double bed, free breakfast, free the fastest wifi in Nepal!)
  • Makan: 100 – 200 rupee

Harga per Januari 2017


Baca kisah gue di Nepal lainnya:

Advertisements

4 thoughts on “Matahari Musim Dingin di Nagarkot

Leave a Reply

Fill in your details below or click an icon to log in:

WordPress.com Logo

You are commenting using your WordPress.com account. Log Out / Change )

Twitter picture

You are commenting using your Twitter account. Log Out / Change )

Facebook photo

You are commenting using your Facebook account. Log Out / Change )

Google+ photo

You are commenting using your Google+ account. Log Out / Change )

Connecting to %s