Cukup

Gue nggak sabar pengen pulang.

Kayaknya ini udah ke sekian kali gue ngerasa kaya gini di penghujung perjalanan gue yang lama. Gue inget tahun lalu setelah dua bulan muterin Eropa, gue ngerasa hal yang sama kaya gini beberapa hari menjelang pesawat balik gue ke Indonesia. Rasanya itu kaya udah cukup, udah kenyang. Iya, kaya lo yang tadinya lapar banget dan akhirnya makan, tapi di gigitan terakhir lo udah berasa kenyang dan pengen berhenti ngunyah.

Gue ngerasain kaya gini mungkin karena gue pergi sendirian dan dalam waktu yang lama. Solo traveling yang selalu jadi terapi buat kesehatan mental gue, ditambah variabel jangka waktu yang lama. Gue ngerasain kaya gini mungkin karena di dalam setiap me-time yang sangat langka ini, banyak hal yang gue lihat dan banyak pengalaman super unik yang gue rasakan. Gue ngerasa kaya gini mungkin karena gue memulai perjalanan ini dengan nampan kosong, dan dua minggu kemudian nampan itu udah penuh.

Maka gue kenyang, dan saatnya untuk kembali pulang.

Menurut gue, rasa cukup ini lumayan penting untuk setiap perjalanan. Rasa cukup yang jelas berguna secara signifikan untuk banyak hal. Rasa cukup yang sangat berguna untuk merasa puas atas segala pengalaman yang ada, dan kemudian mengucapkan selamat tinggal dengan lega. Rasa cukup yang sangat berguna untuk siap pulang dan menyambut kembali rutinitas hidup. Rasa cukup yang menjadi modal penting buat diubah jadi bahan bakar berupa motivasi. Yup, motivasi buat ngejalanin rutinitas hidup yang katanya membosankan itu. Rutinitas hidup yang malah menurut gue, ngangenin.

Yes, I miss my mundane life.

introvert-backpacker-nepal-solo-travel-himalaya-5

Kalau dilihat kembali ke dua minggu sebelum ini, rasa cukup yang sama yang membuat gue memutuskan untuk pergi dari rutinitas dan menuju ketidakpastian. *Haha* Rasa cukup yang jadi bahan bakar gue untuk ngejalanin perjalanan yang penuh ketidakpastian – sendirian pula. Jadi ya, inilah lingkaran hidup sederhana gue yang rasanya sangat mengidolakan rasa cukup ini.

Kalau dipikir-pikir, rasa cukup ini ternyata nggak signifikan dengan lamanya durasi perjalanan gue. Tahun lalu dua bulan di Eropa, gue nggak merasa cukup dengan traveling di minggu kedua – tapi di akhir bulan kedua. Kali ini dua minggu di Nepal, gue ngerasa cukup di minggu kedua – bukan di bulan kedua. Artinya ya memang disesuaikan dengan keadaan. Secara teknis, disesuaikan dengan tiket pesawat sih hahaha. Tapi kalau boleh gue petik maknanya, rasa cukup ini kayaknya benar-benar ada dalam kontrol kita. Oh we are in control, indeed. Kita sendiri yang menentukan kapan kita akan bisa ngerasa cukup. Apakah kita nentuin di awal atau di akhir, intinya kita sendiri yang nentuin. Bukan orang lain, bukan keadaan, bukan hal-hal eksternal. Cool, isn’t?

Kalau dipikir-pikir, rasa cukup ini bisa diaplikasikan ke hal lain loh. Hal yang lebih substansial, yang jauh lebih sederhana, yang lebih keseharian. Kaya cukup buat makan, cukup buat kerja, cukup buat maen dan balik fokus kerjaan! Cukup buat cek timeline, atau cukup buat tidur? Haha. Kalau buat gue pribadi, cukup buat me-time dan balik bersosialisasi. Atau sebaliknya, cukup buat bersosialisasi untuk kemudian cari waktu buat me-time.

Jadi apakah gue sudah ngerasa cukup dengan me-time gue? Oh hell yes I am. I took all the time I need. Gue dengerin lagu, gue baca buku, gue bengong ngeliat sunset. Even I had a time to revisited my old wound, only to find out that I was okay. It was all magnificent and beautiful time.

Dan itu cukup.

Sekarang, saatnya untuk gue pulang.


Baca kisah gue di Nepal lainnya:

Advertisements

4 thoughts on “Cukup

Leave a Reply

Fill in your details below or click an icon to log in:

WordPress.com Logo

You are commenting using your WordPress.com account. Log Out / Change )

Twitter picture

You are commenting using your Twitter account. Log Out / Change )

Facebook photo

You are commenting using your Facebook account. Log Out / Change )

Google+ photo

You are commenting using your Google+ account. Log Out / Change )

Connecting to %s