La La Land, Interpretasi Versi Hopeless Romantic

Tulisan panjang! Durasi baca: 10 – 15 menit

Masih memegang perkataan dosen Konseling di masa kuliah dulu, rasanya memang harus gue tuliskan semuanya biar terstruktur. Setidaknya gue bisa mengeluarkan apa yang bisa gue rasakan selama ini, sembari menganalisa apa yang membuat gue bisa sebegitu jatuh cintanya dengan film ini. Tulisan ini juga jelas berguna jadi dokumentasi yang tak lekang oleh waktu,  yang bisa dibaca ulang di kemudian hari nanti. Sekaligus, tulisan ini untuk merayakan hari di mana La La Land meraih 14 nominasi Oscar tahun 2017. Tulisan yang bakal penuh dengan spoiler, jadi hati-hati kalau lo belum nonton filmnya.

Harus gue akui bahwa memang gue sangat tergila-gila dengan film ini. Tergila-gila jatuh cinta seperti rasa jatuh cinta sama cewe kali ya, yang sampai menye-menye lebay ga jelas dan selalu kepikiran setiap saat. Yang selalu sibuk menganalisa setiap detil gerakan dan reaksi yang ada. Yang selalu mencoba menginterpretasi pilihan reaksi yang ada dan mencari benang merah di antaranya.

Fakta bahwa gue sudah nonton film ini tiga kali di bioskop adalah bukan yang tergila. Saking gilanya, gue menolak untuk melihat potongan klip musical sequence yang ada dalam film ini di YouTube. Karena menurut gue, setiap musical sequence itu sakral adanya dan hanya bisa dinikmati dengan sempurna ketika kita tahu konteksnya; artinya harus ditonton dari awal sampai akhir! Gak bisa lah ditonton secuprit-secuprit gitu di YouTube.

Dengerin album soundtrack-nya di Apple Music yang sudah diunduh pun gue menolak untuk dengerin cuma satu-satu, harus lengkap satu album dari awal sampai akhir! Gue juga menolak untuk dengerin albumnya sambil melakukan aktivitas lain, jadi ga fokus sama lirik dan emosinya! Gak bisa, harus gue dengerin gak sambil ngapa-ngapain. Harus quality time tanpa distraksi apapun!

Jadi apa yang membuat gue bisa segitunya sama La La Land?

Sebagai catatan, gue menyelipkan potongan lirik dari Another Day of Sun yang menurut gue menjadi pembuka yang jenius. Bukan saja karena setiap liriknya seakan menggambarkan kisah Sebastian dan Mia dari awal sampai akhir, tetapi membungkus “kepedihan” itu dalam melodi dan koreografi yang bahagia.

LLL d 41-42_6689.NEF

Idealisme vs Hubungan Romansa

Sutradara dan penulis naskah Damien Chazelle tahu banget soal ini. Gue curiga kisah ini berangkat dari pengalaman pribadi dia, mengingat Whiplash (2014) juga terinspirasi dari pengalaman dia les drum dari guru yang super galak. Dilema antara mengejar passion dalam dunia pekerjaan dengan membina hubungan romansa memang selalu ada dan sangat realistis. Lo bisa menemukan itu entah pada diri sendiri, atau orang-orang di sekitar lo. Dilema yang mau mencurahkan sepenuh hati pada dua-duanya, tapi tidak akan pernah bisa secara adil dan merata.

Ya mungkin ada orang yang bisa menjalani dua-duanya, tapi dengan skala yang moderate dan terkesan tanpa totalitas. Tetapi untuk orang-orang yang selalu total memberikan semua yang dia punya pada satu hal, jelas mau ga mau harus pilih salah satu. Apalagi dalam dunia seni, salah satu bidang pekerjaan yang jelas menuntut 100% agar hasilnya terlihat maksimal. Harus menuntut idealisme tertinggi, sehingga orang yang menikmati hasilnya nanti bisa bilang bahwa karya tersebut memang punya hati.

Kita dikenalkan dengan dua karakter yang memiliki mimpi yang identik. Sebastian yang ingin menyelamatkan jazz dengan membuka klub jazz sendiri, dan Mia yang ingin menjadi aktris di layar lebar. Mereka berdua sama-sama punya mimpi untuk meraih potensi maksimal di bidang yang memang mereka sungguh kuasai. Mereka ini bukan cebol merindukan bulan yang tidak memiliki bakat sama sekali. Mereka tahu mereka mampu mencapai itu, hanya keadaan pada saat itu yang membuat mereka belum bisa mencapainya. Sebastian dengan kesulitan keuangan, dan Mia yang mengalami krisis kepercayaan diri setelah puluhan audisi.

Brengseknya, dua idealis ini dipertemukan dalam tragedi romansa paling berdarah sepanjang masa dan sepanjang segala abad amin. Kenapa mereka harus ketemu di awal ya? Tapi ya kalau mereka ga ketemu, semua momen indah itu tidak akan terjadi. Anyway, dua idealis yang punya mimpi ini bertemu dan saling jatuh cinta. Ya iya lah! How come mereka gak jatuh cinta satu sama lain melihat kesamaan mimpi yang dimiliki masing-masing?

Ketika mereka saling jatuh cinta dan menjalani masa-masa bahagia, deep down kita sudah tahu bahwa kisah cinta mereka tidak akan berjalan mulus. Either mereka tidak akan meraih mimpi mereka di awal film, atau mereka tidak akan bisa bersama. Salah satu dari itu harus mereka korbankan. Biasanya, genre film romansa biasanya akan fokus pada akhir bahagia di mana mereka bersama. Tetapi jeniusnya Damien Chazelle adalah dia sangat realistis – dan idealis.

La La Land dimulai dengan passion membahana dari setiap karakternya. Passion untuk menjadi yang terbaik dalam keahlian yang dimiliki, yang diteriakkan dengan lantang di tengah-tengah rutinitas hidup yang paling membosankan; macet di jalan tol. Suatu hal yang akan dijawab di akhir film, meski mengorbankan hal lain yang tak kalah indahnya; cinta.

la-la-land-interpretation-interpretasi-essay-2b

Kisah Cinta yang Sia-sia?

Tapi apa benar bahwa kisah cint a mereka menjadi sia-sia?

Enggak bro. Bukan saja karena momen-momen indah berdansa di antara bintang-bintang itu. Yang paling penting adalah, dengan bertemu dan mencintai satu sama lain, sadar atau tidak mereka membantu pasangannya untuk mencapai mimpi masing-masing. Masing-masing menjadi professional stepping stone untuk pasangannya, untuk berani melangkah menuju mimpinya.

Dalam film digambarkan bahwa hanya Sebastian yang memotivasi Mia untuk menulis cerita dan karakter sendiri – ketimbang terus menerus tunduk pada naskah buatan orang lain untuk kemudian gagal menyelaminya. Hanya Sebastian yang bisa membuat Mia menjadi dirinya sendiri, mulai dari monolognya hingga nyanyian spontan di audisi terakhirnya. Sadar atau tidak, kualitas hubungannya dengan Sebastian yang membuat Mia bisa melakukan semua itu. Menulis naskah monolog, mementaskannya, atau masih mau mengikuti audisi untuk terakhir kalinya meski sudah jatuh dalam jurang putus asa yang terdalam.

I think about that day
I left him at a Greyhound station west of Santa Fé
We were seventeen, but he was sweet and it was true
Still I did what I had to do, ’cause I just knew

“Another Day of Sun”

Sebaliknya, hanya Mia yang bisa membuat Sebastian menghadapi kekurangan terbesarnya dalam membuka klub sendiri. Hanya jatuh cintanya Sebastian pada Mia yang bisa memberi semangat untuk tetap nge-band di sebuah klub jazz – meski bukan klubnya sendiri. Ya setidaknya itu lebih baik ketimbang bermain di sebuah band yang hanya tampil memainkan lagu cheesy di acara pesta. Kalau bukan karena dia manggung di klub jazz, Sebastian tidak akan ditemui oleh Keith yang kemudian menjadi jalan untuk mengumpulkan uang lebih banyak.

Pertemuan antara Sebastian dan Keith di klub jazz ini jelas pararel dengan pertemuan antara Mia dan Amy Brandt di monolognya. Do you see that? Kalau mereka berdua nggak bertemu dan saling jatuh cinta, Sebastian bakal tetep nge-band keliling pesta dan Mia akan kerja di kedai kopi selamanya. Mimpi idealisme akan menjadi omong kosong belaka.

Lagi pula, kalo Mia jadi suka jazz gegara Sebastian – dan kesukaan Mia pada jazz juga yang akhirnya membuat dia tertarik masuk ke klub jazz Seb’s.

la-la-land-interpretation-interpretasi-essay-6

Karakterisasi yang Romantis

Gue sangat suka bagaimana realistisnya karakter yang ditulis oleh Damien Chazelle. Saking realistisnya, mereka pun mengambil pilihan yang juga sama-sama realistis. Meski karakter realistis ini hadir di tengah-tengah film di mana para karakternya tetiba bisa bernyanyi dan berdansa di tengah kota yang cenderung absurd. Di sini letak ironi dan menjadi jenius ketika dua kutub ini bisa saling melengkapi dan menjadi indah.

Mungkin karena gue cowo, tapi gue sangat suka dengan karakter Sebastian yang digambarkan sangat romantis. Sebastian sangat mengagumi masa lalu, terlihat dari bagaimana kecintaannya pada jazz era Miles Davis dan Charlie Porter. Ketika kecintaannya itu terusik oleh perkembangan situasi sekarang, dia menolak itu dan menjadikan dirinya sendiri untuk mencegah hal tersebut untuk mati dan hilang ditelan jaman.

And even when the answer’s “no”
Or when my money’s running low
The dusty mic and neon glow are all I need
And someday as I sing my song
A small-town kid’ll come along
That’ll be the thing to push him on and go go

“Another Day of Sun”

Dia merelakan dirinya sendiri – mengorbankan hal yang orang kebanyakan butuhkan – demi mencapai itu. Tinggal sendiran di apartemen tanpa merasa butuh kehadiran wanita, rela nyetir jauh-jauh demi minum kopi sambil memandangi klub Van Beek, atau masih tidak rela membuka boks-boks pindahannya. Caranya mengenang masa lalu dan pengorbanan dirinya yang bagai burung phoenix, jelas menjadi pondasi utama karakter Sebastian.

Kuatnya karakter Sebastian ini jelas membuat adegan saling tatap di akhir film itu menjadi semakin depresif. Sebastian itu visualisasi sempurna dari frase hopeless romantic! Kita semua tahu bahwa tatapan itu adalah campuran antara bahagia dengan sedih. Analogi terdekatnya adalah senyum simpul kita pada saat mengucapkan selamat pada mantan di hari pernikahannya. Bahagia karena akhirnya Mia (dan juga Sebastian) mencapai mimpi, bahagia terhadap segala hal yang sudah mereka jalani, meski ada sedikit rasa sesal bahwa mereka tidak bisa bersama. Gue tahu, ini pedihnya bangsat!

‘Cause maybe in that sleepy town
He’ll sit one day, the lights are down
He’ll see my face and think of how he…
…used to know me.

“Another Day of Sun”

Sebastian sebagai seorang pengagum masa lalu bisa disimpulkan bahwa memang Sebastian lebih mencintai Mia ketimbang sebaliknya. Lihat saja klub jazz dia yang akhirnya bernama sesuai usulan Mia – tepat sampai ke gambaran logonya. Mungkin saja Sebastian selama lima tahun tersebut tetap menyendiri karena dirinya masih berharap dapat bersama dengan Mia? Ah!

la-la-land-interpretation-interpretasi-essay-4

Sedangkan Mia. Dia lonte. Nyet lima tahun bukannya bisa sabar yak pake Skype atau WhatsApp Video Call gitu kek HIHHH!

Bentar-bentar, kok gue jadi kesel.

#tariknafas

Oke maaf, dia bukan lonte.

Mungkin memang Mia itu tipikal wanita yang sulit menyendiri. Doi jarang jomblo, bro! Doi gak bisa deh dua minggu ga ada cowo disampingnya – mau kaya gimana pun itu cowo. Dari Greg, terus pindah ke Sebastian dengan cepat. Lalu entah berapa belas cowo selama dia menjalani 2-3 tahun pertama di Paris. Sampai akhirnya dia menemukan si mantan drummer That Thing You Do dan punya anak berusia 2-3 tahun.

Mungkin memang Mia itu adalah tipikal wanita yang menaruh mimpi di atas hubungan romansa. Doi gapapa banget punya hubungan romansa yang biasa-biasa saja, tetapi passion dan idealismenya harus luar biasa! Doi gapapa banget punya cowo yang reguler, tapi kerjaannya harus kelas premiere!

Sunday nights, we’d sink into our seats
Right as they dimmed out all the lights
A Technicolor world made out of music and machine
It called me to be on that screen
And live inside each scene

“Another Day of Sun”

Terus romantisnya Mia di mana, Mo? Ya mungkin bagaimana doi tetap berpegang teguh pada pekerjaannya dibandingkan hubungan romansa, yang rasanya cukup jarang ditemui di kebanyakan wanita tahun 1950-an. Karakteristik Mia jelas menjadi suara paling vokal dalam kelompok feminisme, untuk menjadi wanita yang independen dan mandiri dengan pekerjaannya.

la-la-land-interpretation-interpretasi-essay

Dunia La La yang Penuh Makna

Pada akhirnya memang dunia yang penuh imajinasi ini ingin menyampaikan maknanya. Interpretasi orang memang bisa berbeda-beda, tergantung pengalaman dan preferensi masing-masing. Berhubung gue nggak ada pengalaman dengan dunia seni dan kota Los Angeles, maka interpretasi gue ini hanya fokus pada isu passion, idealisme, hubungan romansa, dan karakterisasi dari Sebastian dan Mia. Interpretasi super subjektif gue ini mungkin nggak bisa diterima oleh banyak orang karena perbedaan pandangan, dan ini adalah hal yang sangat wajar.

Memang dunia la la yang menyembah segalanya tanpa menghargai satu pun memang berbicara bahwa setiap orang memiliki masanya sendiri untuk mengejar satu hal dalam hidupnya. Dalam kulit luarnya, film ini jelas berteriak tegas bahwa mengejar mimpi sekonyol apapun itu bukanlah barang becandaan. Lagipula definisi “mimpi itu konyol” ada pada norma sosial masyarakat, padahal mimpi itu sangat personal! Setiap individu bebas menentukan mimpinya sendiri-sendiri, tanpa perlu tunduk pada pendapat orang lain.

Pichikaka!

Jadi sebagaimana pun elo cling to the past seperti Sebastian atau bahkan fokus pada target masa depan seperti Mia, kita semua boleh memiliki mimpi. Untuk nggak merasa malu dan konyol pada mimpi kita sendiri – sesederhana atau “serendah” apapun mimpi itu. Untuk berani jujur pada diri sendiri tentang mimpi itu, dan kemudian jujur pada pasangan.

Selanjutnya, menemukan pasangan yang bisa membantu meraih mimpi tersebut. Berakhirnya hubungan tersebut jelas menjadi hal yang tidak bisa disesali, karena hubungan tersebut sudah mengantar elo pada mimpi itu. Ya wong awalnya itu yang elo mau kok. Hayo! Loh kok jadi galak.

Anyway. La La Land jelas menjadi film paling spesial dalam hidup gue. Bukan hanya karena film musikal yang menjadi genre favorit gue, tetapi bagaimana kisah dalam film ini bercerita banyak soal passion dan romansa. Apalagi kisah pedih itu berhasil dibungkus dalam kemasan bahagia, yang mau tidak mau membuat kita semua yang menontonnya terpaksa harus mensyukuri yang ada. Memaksa kita untuk terus bersyukur dan fokus pada hal positif yang sudah didapat, meski sepedih apapun hasilnya.

Menjadi pengingat yang sempurna untuk bagaimana menjalani satu lagi hari biasa yang membosankan dan menyebalkan, ketika hari itu disinari oleh matahari yang cerah dan hangat.

Climb these hills
I’m reaching for the heights
And chasing all the lights that shine
And when they let you down
You’ll get up off the ground
‘Cause morning rolls around

And it’s another day of sun!

la-la-land-interpretation-interpretasi-essay-3

 

Advertisements

Leave a Reply

Fill in your details below or click an icon to log in:

WordPress.com Logo

You are commenting using your WordPress.com account. Log Out / Change )

Twitter picture

You are commenting using your Twitter account. Log Out / Change )

Facebook photo

You are commenting using your Facebook account. Log Out / Change )

Google+ photo

You are commenting using your Google+ account. Log Out / Change )

Connecting to %s