Memaknai Keheningan dalam Silence

“Di manakah Tuhan ketika aku menderita?”

Rasanya pertanyaan inilah yang bisa menjadi pondasi dasar dalam film terbarunya Martin Scorsese, Silence (2017). Diangkat dari novel berjudul sama oleh Shusaku Endo tahun 1966, Silence bercerita tentang para misionaris Jesuit yang menyebarkan agama Katolik di Jepang pada abad ke-17. Namun misi mereka tidaklah semudah itu, ketika penguasa Jepang melarang penyebaran agama Katolik dengan menyiksa dan menekan para pengikutnya – termasuk para romo Jesuit yang berada di Jepang.

Penguasa Jepang di era feodalisme yang dikuasai oleh para mantan Samurai yang memang seorang pejuang, jelas memiliki seribu satu cara untuk melakukan tindakan represif. Mereka lambat laun belajar bahwa untuk membasmi Kristenisasi tidak bisa dengan terus menerus melakukan tindakan represif pada warganya sendiri yang telah memeluk agama Katolik. Kebanyakan pemeluk agama Katolik yang berada di desa pesisir laut ini jelas logis, karena memang laut adalah pintu masuk utama bagi para misionaris yang menumpang kapal-kapal pedagang. Maka tidak heran juga hukuman-hukuman sadisnya disesuaikan dengan kondisi geografis pula, termasuk penyaliban di pinggir laut pasang sehingga para terhukum akan mati tenggelam dengan pelan-pelan. Memenggal kepala jelas merupakan hukuman yang paling ringan, karena si korban tidak akan mengalami penderitaan yang lebih lanjut.

Penyiksaan Mental dan Rohani

Ketika menghukum mati para warga menjadi tidak lagi efektif, mereka mulai menggunakan metode mencabut sampai ke akar-akarnya. Kepala para misionaris pun menjadi hadiah terbesar. Sampai pada akhirnya meninggalnya para misionaris malah menjadi martir dan menyuburkan bibit Kristiani di tanah Jepang. Para penguasa lambat laun belajar akan hal tersebut, sehingga metode mencabut akar pun bergeser ke ranah di luar fisik. Iman dan keyakinan para misionaris ini yang kemudian disasar, dengan berusaha membuat mereka menginjak gambar Yesus dan tidak mengakuinya sebagai Tuhan mereka. Nyatanya, ini menjadi cara penyiksaan yang paling sadis ketimbang penyiksaan fisik.

silence andrew garfield interpretasi ulasan review introvert backpacker 2

Apalagi jika sampai melibatkan nyawa warga biasa yang tak berdosa, pastor dengan pendidikan setinggi Vatikan mana pun tidak akan tega melihat hal tersebut. Namun sampai kapan penderitaan itu dapat ditanggung, bahkan untuk iman dan keyakinan sekelas pastor yang belajar filsafat dan agama? Anekdot-anekdot menjadi martir seperti Yesus yang menderita sampai mati di kayu salib pun mulai muncul. Menjalani kehidupan – yang secara kasat mata lebih menderita – seperti Yesus pun mulai tumbuh perlahan, sampai pada teriakan akhir yang putus asa di atas kayu salib.

“Allahku, ya Allahku! Mengapa Engkau meninggalkan Aku?”

Derita datang silih berganti, dan semakin lama semakin kuat. Tetapi Tuhan Allah semakin diam dalam keheningan. Apakah benar-benar Dia meninggalkan para misionaris ini? Para misionaris yang notabene adalah pewarta Injil sekaligus gembala bagi domba-domba-Nya ini? Jika Allah saja meninggalkan gembala-Nya, bagaimana domba-domba-Nya? Mengapa Tuhan begitu hening? Di mana Tuhan?

Pertanyaan-pertanyaan semacam ini yang konsisten didengungkan sepanjang film, oleh salah satu karakter utamanya yang memang mengalami penyiksaan batin yang paling dalam. Keteguhan imannya digedor paksa, agar runtuh dan hancur berantakan. Setiap doanya makin hari semakin keras dan lantang, juga semakin bernada putus asa. Pasrah dan menyerah menjadi sisa pilihan yang paling masuk akal. Tetapi bagaimana Tuhan bisa menjawab jika dia terus-menerus berteriak-teriak dalam doa?

Memaknai Keheningan

Satu adegan yang membuat gue merinding adalah jelas ketika suara Tuhan terdengar tepat di momen karakter tersebut pasrah dan menyerah. Kumandang-kumandang doa telah berganti dengan air mata ikhlas, dan helaan nafas pasrah. Tepat dalam momen hening tersebut, Tuhan melantunkan suaranya dengan penuh kedamaian.

Marilah kepada-Ku , semua yang letih lesu dan berbeban berat, Aku akan memberi kelegaan kepadamu

– Matius 11: 28 –

Apakah itu makna dari keheningan? Ketika kita terlalu sibuk berdoa dan berbicara. Ketika kita terlalu sering menggunakan mulut ketimbang dua telinga kita untuk mendengar. Apakah memang setiap untaian kata indah dalam doa kita harus selalu diimbangi dengan hening dan menggunakan telinga batin? Apakah memang kita harus memberikan kesempatan bagi Tuhan untuk ganti berdoa dalam diri kita?

Jadi, ketika Tuhan terasa hening, apakah itu artinya Tuhan tidak hadir? Kalau dalam ranah relijius, Tuhan selalu hadir dengan cara-Nya yang misterius. Tetapi kalau dalam ranah Martin Scorsese dan Shasuko Endo, rasanya Tuhan hadir dalam diri Kichijiro. Dalam perjalanan kehidupan Romo Rodrigues, karakter Kichijiro tidak pernah lepas darinya. Konsistensi dan determinasi Kichijiro untuk mengaku dosa tidak pernah luntur oleh umur dan waktu, apalagi dengan siksaan dan derita yang mereka alami bersama. Terutama dengan penyangkalan Tuhan Yesus yang sudah dilakukan berkali-kali oleh Kichijiro. Tetapi Kichijiro selalu kembali untuk mengaku dosa.

silence andrew garfield interpretasi ulasan review introvert backpacker 5

Kehadiran Kichijiro

Sampai di sini, kita bisa melihat bahwa Kichijiro tampil sebagai anti-tesis dari Romo Rodrigues. Romo Rodrigues yang telah melahap akademi filsafat dan agama di tempat yang paling mumpuni di bumi, sedangkan Kichijiro mempelajari agama dan imannya lewat perantara para romo tersebut – di desa kecil yang jauh dari lengkapnya kebutuhan primer apalagi sekunder dan tersier. Pengetahuan mereka tentang agama dan iman jelas jauh berbeda, tetapi bagaimana mereka cara menjalani kepercayaan dan keyakinan mereka yang menjadi berbeda.

Karakter Romo Rodrigues jelas menggambarkan bahwa seberapa dalam pengetahuan tentang agama dan kitab suci tidak menjamin kuatnya iman dan keyakinan. Sering kali kita melihat teriakan doa Romo Rodrigues yang memohon ampun, sembari mengutip banyak ayat dari Injil. Seringkali pula kita melihat umpatan keputusasaan Romo Rodrigues yang menyamakan dirinya dengan santo-santa atau para martir yang bersedia mati demi Tuhan sebelumnya. Tetapi tidak ada teriakan doa dan umpatan keputusasaan yang sama yang keluar dari Kichijiro, seorang rakyat jelata yang selalu merasa bersalah – tetapi selalu merasa ingin kembali bertobat dan mengakui rasa bersalahnya.

Martin Scorsese memang tidak serta-merta memberikan jawaban mudah tentang bagaimana cara menjalani iman dan keyakinan yang paling benar. Tidak pula memberikan label baik atau buruk pada dua karakter ini. Alih-alih, beliau hanya sabar mendeskripsikan dua karakter ini dalam kurun waktu dua setengah jam. Lengkap luar dalam, sampai akhir masa hidupnya, untuk kemudian bisa direnungkan oleh siapapun yang menonton dan memahaminya.

silence andrew garfield interpretasi ulasan review introvert backpacker 4

Memaknai Keraguan

Secara kasat mata, mungkin akan banyak kelompok penonton yang melihat betapa lemahnya iman yang dipegang oleh Romo Rodrigues. Tetapi gue lebih memilih untuk melihat bahwa betapa pentingnya keraguan yang dialami oleh Romo Rodrigues. Bukan lemah, bukan tidak tegar, tetapi ragu. Dan ragu itu adalah proses paling vital dalam mendewasakan iman.

Dalam film ini digambarkan betapa keraguan yang dialami oleh Romo Rodrigues bervariasi skalanya, mulai dari yang paling ringan hingga yang paling berat. Mulai dari ragu apakah Tuhan selama ini ada menemani dia, hingga pada marah pada Tuhan yang ia rasa selama ini meninggalkannya untuk menderita – bahkan membunuh beberapa warga tidak berdosa. Keraguan ini yang membuat Romo Rodrigues jatuh pada lubang yang paling dalam. Tetapi kemudian, seperti pada kisah hidup normal siapapun orangnya, kejatuhan yang paling dalam menyisakan satu pilihan arah; naik ke atas!

Justru dengan kejatuhan Romo Rodrigues, pada akhirnya ia menemukan kembali imannya – bahkan lebih kuat dari sebelumnya. Bagaimana tidak, ia menyadari bahwa selama ini jawabannya tepat ada di depan mata dia. Jawaban akan keraguan imannya, ternyata selama ini ada pada orang yang selama ini ia benci dan ia hindari. Ya, siapa lagi kalau bukan keteguhan iman yang sederhana dari seorang Kichijiro.

Simbol Iman

Silence ditutup dengan sangat cantik dan rupawan, yang akan coba gue lakukan juga pada essay panjang ini.

Sepanjang film, para penguasa Jepang berkali-kali mencoba memanipulasi para korbannya yang diminta menginjak plat metal bergambar Yesus, bahwa tindakan menginjak tersebut hanya formalitas. Plat tersebut bukanlah apa-apa, melainkan hanya sebuah gambar. Sebuah simbol Katolik yang direduksi sedemikian rupa menjadi gambar biasa, untuk kemudian diinjak sebagai lambang penyangkalan. Romo Rodrigues tidak menerima hal tersebut, dan selalu menganggap bahwa plat metal tersebut adalah cerminan imannya. Sama seperti keputusannya untuk menjadi seorang pastor dengan seringnya melihat wajah Yesus dalam setiap kesehariannya.

Tetapi tidak dengan Kichijiro, yang mungkin saja dengan kebiasaannya dan cara dia menjalani hidup yang sangat terbatas, tidak terlalu menganggap plat metal tersebut sebagai sesuatu yang ilahi. Kichijiro berulang kali menginjaknya, menuruti perintah para penindas. Berulang kali pula Kichijiro mendatangi Romo Rodrigues, tanpa peduli betapa romo itu membenci dirinya yang telah menyerahkannya pada Inoue-sama.

Karena apa yang dipahami oleh Kichijiro adalah sangat sederhana, bahwa Tuhan yang ia yakini begitu baik sampai mau mengampuni kesalahannya berkali-kali. Seberapa kali pun Kichijiro menyangkal Yesus dengan menginjak plat metal tersebut, seberapa kali itu juga ia diampuni oleh-Nya – lewat perantaraan Romo Rodrigues. Mungkinkah Kichijiro secara tidak sadar telah mengimani kepercayaannya bukan lewat simbol, tetapi lewat keyakinannya yang sangat sederhana tersebut?

Kita melihat bagaimana Romo Rodrigues dan Romo Ferreira yang menjadi anak buah Inoue-sama dengan memeriksa simbol-simbol Kristen yang ada dalam barang-barang yang dibawa oleh para pedagang dari Eropa. Dengan tingkat pendidikan dan pengetahuannya, jelas dengan mudah mereka bisa mengidentifikasi simbol-simbol Kristen yang disamarkan dalam berbagai bentuk; mulai dari bentuk salib hingga gambar santo-santa. Dari awal film juga kita sudah melihat bagaimana salib yang dibuat dari berbagai bahan ini dioper dari satu orang ke orang lain, sebagai memento atau simbol pralambang dari iman. Simbol yang berguna untuk membantu menegakkan iman dan kepercayaan kita, dan ternyata bukan bertindak sebagai barang pengganti. Anekdot simbol ini yang kemudian dilawan dengan karakter Kichijiro yang sangat sederhana, tanpa simbol apapun tetapi mampu mempertahankan imannya sampai mati.

silence andrew garfield interpretasi ulasan review introvert backpacker 3

Advertisements

Leave a Reply

Fill in your details below or click an icon to log in:

WordPress.com Logo

You are commenting using your WordPress.com account. Log Out / Change )

Twitter picture

You are commenting using your Twitter account. Log Out / Change )

Facebook photo

You are commenting using your Facebook account. Log Out / Change )

Google+ photo

You are commenting using your Google+ account. Log Out / Change )

Connecting to %s